Always Think From Another Side


Gila!….

Mungkin itu ungkapan yang pas untuk trip yang melelahkan ini -at least it’s a nicely trip-, hal ini berawal dari satu teman yang juga tidak jauh dari ungkapan tadi : Gila!, jum’at siang setelah sholat jum’at ternyata ada surprise, salah satu kawan dari jauh datang karena ada keperluan medisnya n pada hari minggunya bertepatan dengan acara bulanan di kediri, klop!. Dikarenakan ada hal penting yang berkaitan dengan kawan jauhku itu kita berdua merencanakan trip ke kediri, usul pertama kita naik bis berdua, usul kedua kita naik mobil ditambah mengajak 2 ladies dari ujung surabaya 😀 sepertinya usul kedua bisa dimengerti –bagaimana dengan usul ke satu apa tidak bisa dimengerti yah??– hehe…, invansi pun dimulai dari paling dekat sampe paling jauh, nihil n sempat hopeless sampe jam 8 malem ngak dapet mobil sewaan, berkah datang di jam 9 lebih 30 menit dan berita itu ternyata datang dari tempat yang tidak terlalu jauh, kami berdua pun meluncur menuju sasaran meskipun ada sedikit kekecewaan karena mobilnya penyok, tapi yang penting kita dapet mobil!. Setelah selesai mobil kita cari rekan untuk diajak bersama berpetualang, jatuh ke rusdi untuk pilihan pertama sempat call 3 kali dan nihil beberapa puluh menit kemudian rusdi call back dan menyatakan untuk berpartisipasi. Petualangan pun dimulai!, kita berangkat dari titik utara surabaya menuju titik sebelah barat surabaya tepatnya simomulyo untuk menjemput 2 makhluk indah ciptaan Sang Esa. Tepat pukul 1/2 2 pagi kita berlima berangkat menuju arah kota yang dijuluki kota tahu, sebelumnya kita mampir ke gadingmangu, perak jombang dimana kita membuat janji dengan kawan yang akan ikut melakukan perjalanan ke kediri dikarenakan satu hal kawan itu ternyata tidak bisa mengikuti perjalanan ini, hitung-hitung sekalian rehat bentar ditambah menikmati khusyuknya suasana malam, saat dimana Allah berada di langit dunia, saat juga dimana kita memohon ampun dan sujud syukur kepadaNya. Perjalanan kita mulai lagi, kemungkinan perjalanan akan memakan waktu sekitar satu sampai satu jam setengah, karena waktu mepet karena kita mengejar nasehat setelah subuh pedal gas sedikit dinaikkan untuk menambah kecepatan dengan harapan kita lebih cepat sampai. Iqomah dari Pondok Burengan telah dikumandangkan ketika kita sampai dan kita pun harus segera bergegas untuk mengambil air wudlu dan sesegera mungkin mencari barisan sholat, kami cowok bertiga mengambil ke arah masjid kecil dekat perumahan para sesepuh, dan para cewek ke lokasi Pondok dan berjanji untuk bertemu di gerbang depan Pondok setelah selesai nasihat subuh. Gara-gara kecapekan bawa mobil udah niat dengerin nasehat bawaannya ngantuk melulu, huh!!, dan bisa ditebak kalau aku lamat laun ngerti isi nasehatnya, setelah acara selesai kita bertiga pisah kecuali aku dan rusdi yang harus berlarian untuk mencari informasi setelah beberapa jam akhirnya keluar keputusan kalau acara yang harus kawanku ikuti diadakan setelah sholat dhuhur. Time to rest i think!, jeda waktu agak lama ini aku n keempat temanku ditambah satu lagi kenalan dari kedua cewek-cewek tadi mampir membeli sarapan yang sekiranya setiap aku ke kediri pasti ke tempat itu, yep! ayam bakar ala kustur, memang ayam bakar ini enggak ada matinya, bumbunya teope abis satu lagi setiap makan bareng aku selalu jadi bak sampah alias ngebantuin yang makanannya ngak habis :D. Kita berpencar untuk sementara waktu untuk menghabiskan waktu, kawanku jauh seperti orang kalap waktu beli kerudung runut-dirunut ternyata mau dijual lagi, aku kira buat siapa? kita bertiga seperti ibu-ibu dipasar, pokoknya tawar semurah-murahnya ditambah sedikit rayuan gombal biar lebih sip!. oya kenalin kawan jauhku ini dokter yang lagi PTT –begitu dia bilang– di tarakan, aku biasa panggil dia bon –kayak panggilan anak naga bonar pada film besutan dedi mizwar, bonaga!– nama lengkapnya Ilham Bondan Pramudiawan –panjang bener kayak kereta–, karena hasrat bon untuk ke puncak menara waktu istirahatku ditahan dulu karena ada ajakan untuk ke menara yang tingginya kurang lebih 80 m, sekadar menikmati dunia dari sudut pandang yang berbeda. Akhirnya waktu istirahat itu benar-benar datang, 1 jam setengah aku habiskan untuk tidur di masjid kecil dekat pasar dadakan, aku terbangun untuk sholat dhuhur sekalian sholat ashar karena kita sedang dalam perjalanan, setelah dhuhur tak ada kata lain selain tidur lagi.

Titit..titit…sms masuk dari bon yang isinya acaraku dah selesai kalian dimana?, di tempat kita tadi berpisah, we will waiting, send!. Satu lagi masuk teman dari surabaya yang kebetulan ketemu di kediri bermaksud untuk ikut menuju ke surabaya, mas..kira-kira perjalanan ke tulungagung jauh nggak dari sini?, butuh berapa jam kalau melakukan perjalanan kesana?, aku pun menjawab “tulungagung?mm..lumayan, klu waktu kemungkinan 1-2 jaman dari sini”, “kenapa?”, sembari tertawa dia berkata “disana ada pantai bagus!”, “heemm, bagosss!!” kataku. Setelah terjadi pembicaraan maka kami berenam memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Tulungagung, setelah menempuh perjalanan tak dinyana ternyata pantai yang kita tuju sudah keluar dari areal Tulungagung lebih tepatnya Trenggalek, sepanjang perjalanan yang kita tempuh si bon sempat mengeluarkan statement kalau ini adalah danau bukan pantai, bon beranggapan seperti itu karena sepanjang perjalanan hanya terdapat gunung-gunung. Tapi, itu hanya anggapan saja lebih kurang pukul 17.15 kita telah dihadapkan pada sebuah kenyataan kalau Prigi adalah pantai bukan danau yang seperti bon bayangkan.

Ayo semua lariii……, ide gila ini datangnya dari bon, dia berbisik kepadaku “rasakan sensasi ketika menuruni pasir ini, kamu seperti melayang”, “seperti itukah bon?” balasku, Tidak ada bukti selain mencoba namun ternyata aku tidak merasakan hal yang bon rasakan, “lha, koq biasa-biasa aja bon”. Pada awalnya bon sempat bermain dengan air laut, namun seperti orang yang pernah bermain air bon langsung mengambil keputusan untuk bermain air, karena aku tidak membawa ganti secara otomatis aku hanya sebagai penggembira saja disitu, Sovia makhluk manis yang berhasil membujukku dengan psikologis terbaliknya untuk menuju pantai ini pun tanpa berpikir panjang untuk segera berbasah-basahan dengan air dan bermain pasir, sepertinya durian runtuh mungkin ekspresi yang ditampakkan oleh gadis manis ini. Setelah puas bermain dan berfoto ria sekitar pukul 18.06 kita siap-siap untuk kembali ke dunia kita, Surabaya “We will come in”. Alunan musik klasik yang terdengar dari moto si bon seakan membius seluruh penumpang mobil untuk beristirahat, kecuali Sovia. Seperti membuka lembar baru dalam kehidupan kita, have a nice trip.

Svia for a lot of Food n u’r became, Nrul for support n helping for us, Roes for konyol n keikutsertaannya, Bon for mobilnya dan makan-makannya.

Kediri-Perigi, 6-7 Juli 2008, with Svia, Nrul, Bon, Roes, Diek.

Advertisements

Comments on: "(Surabaia-Kediri-Prigi-Surabaia)" (2)

  1. waaahh…kayaknya seru banget tuuh….
    kapan2 ajak gw dunk san…
    hehehe…

  2. @ angga : makanya maen-maenlah kesini nga’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: